Welcome to MICROBES online

Disini kamu bisa menemukan konten yang nggak ada dalam terbitan paper MICROBES. Feel free to share anything!

Jakarta Culinary Festival (JCF) 2012

Hallo readers,
Kali ini MICROBES mau berbagi cerita mengenai Jakarta Culinary Festival (JCF) 2012 yang dilaksanakan di Grand Indonesia selama bulan Oktober ini. Grand Opening JCF sendiri telah berlangsung pada tanggal 4 - 7 Oktober 2012 lalu.

JCF adalah event tahunan yang bisa menambah wawasan readers di dunia kuliner. Di sini, para pengunjung dapat mengikuti berbagai kegiatan kuliner dengan biaya tertentu, misalnya German Food & Beer Festival, Wine Testing, Kids Hands On Sushi Making Class, Cupcake Making Demo, bahkan bagi readers penggemar fotografi, ada juga sesi untuk Food Photography

Tidak hanya mengusung keanekaragaman acara dan tema makanan, tapi para chef yang terlibat pun tidak sembarangan, misalnya Chef William Wongso dari Indonesia, lalu ada juga barista ternama Michael Gibbons, dan serangkaian nama chef-chef papan atas seperti Hugo Adrian, Tristan Balian, Steve Diaz, dan lain sebagainya.

Tahun ini, untuk masuk ke acara Grand Opening JCF pengunjung dikenakan biaya 20ribu. Tiket ini berlaku seharian, jadi pengunjung bisa bolak balik seharian selama masih menggunakan cap yang diberikan. Selama acara Grand Opening kemarin, pengunjung juga bisa mencicipi berbagai macam makanan yang ada di stand-stand sambil menambah pengetahuan kuliner baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Jangan khawatir kalau readers belum berkesempatan datang di Grand Opening, karena masih ada banyak rangkaian acara lainnya yang sudah MICROBES ceritakan di atas.

Ini sedikit foto yang MICROBES dapatkan selama acara Grand Opening:











Buat info lebih banyak, readers bisa mengambil guide book JCF ini di ISMAYA, di lt 5 Grand Indonesia :)

10 Gadget dari Bambu


Bambu merupakan jenis rumput-rumputan dengan batang berongga, beruas-ruas, dan akar serabut. Bambu juga dikenal dengan nama buluh, aur, dan eru. Di Indonesia, tidak sulit mencari tanaman ini bahkan Indonesia merupakan surga bagi bambu. Sekitar 159 jenis bambu terdapat di Indonesia, 88 diantaranya merupakan spesies endemik.
Pertumbuhan tanaman bambu tergolong cepat bahkan ada jenis bambu yang dapat tumbuh 60 cm dalam sehari. Seperti yang telah kita ketahui, bambu banyak diaplikasikan di Indonesia. Mulai dari bahan bangunan, perahu rakit, alat musik (angklung), kerajinan rumah tangga, dan bahan pengobatan alami.
Kini bambu juga digunakan dan diolah sebagai bahan perangkat teknologi. Mulai dari speaker, case iPad atau iPhone, headphone, USB, mouse, keyboard bluetooh, hingga Notebook. Tak percaya? Simak gambar-gambar berikut di bawah ini :

   iBamboo Speaker
·      
                                                            Asus Bamboo Series Notebook

       Vers Bamboo Stereo Alarm Clock

 izen Keyboard

     REVEAL DJ Headphone


        VERS Bamboo iPhone 4 Case

      Silva LTD Custom Bamboo


     VERS Bamboo iPad 2 Case

  Brando 8GB USB Flash Drive

     Wired Bamboo Mouse by Bambooki

Produk-produk ini ramah lingkungan karena hanya menghasilkan sedikit sampah pada proses produksinya. Selain itu, tidak perlu khawatir bambu menjadi langka karena bambu tumbuh dengan cepat. Tertarik membeli? Siap-siap merogoh kantong, karena tentunya produk unik ini tidak murah (mwe).

Fasilitas di Bawah Laut


Sama halnya dengan produk pangan dan obat-obatan yang sekarang fokus untuk menggunakan produk laut, berbagai fasilitas juga dibangun di dasar laut. Inovatif sekali bukan? J Semewah apapun hotel atau restoran di darat itu sudah hal yang biasa. Tapi hotel di bawah laut? Menakjubkan! Di beberapa tempat seperti di Dubai dan Pulau Conrad Rangali (Maladewa) sudah dibangun hotel di bawah laut. Wow, bayangkan saja serasa tidur di dalam akuarium. Selain fasilitas mewah, harga per malamnya pun cukup ‘wow’. Untuk menginap satu malam saja, kita harus membayar sekitar Rp 26 jutaan!



Selain hotel dan restoran, ada juga negara yang membangun terowongan kereta di bawah laut. Contohnya saja Jepang dan Inggris. Di Jepang memiliki Seikan Tunnel yang merupakan terowongan kereta api terpanjang di dunia,  panjang totalnya 53,85 km dengan 23,3 km di antaranya terletak di dasar laut. Terowongan ini berada di bawah selat Tsugaru, menghubungkan provinsi Aomori di pulau Honshu dan pulau Hokaido. Selain Seikan Tunnel, juga ada Shinkanmon Tunnel yang merupakan terowongan kereta api di bawah laut. Walaupun tidak sepanjang Seikan Tunnel tetapi Shinkanmon Tunel memiliki jalur kereta api tercepat di dunia (Sayo Shinkansen). Kalau di Inggris, terowongan di bawah lautnya bernama Channel Tunnel. Walaupun juga tidak sepanjang Seikan Tunnel, tetapi Channel Tunnel merupakan terowongan kereta api terpanjang di dunia, yaitu 50,5 km. Wah, bayangkan bagaimana kerumitan dan pembiayaan pembuatannya yang pasti sangat mahal.  Selanjutnya terowongan yang akan ikut memecah rekor keajaiban teknologi adalah terowongan Gotthard Base di Eropa. Kapan ya giliran Indonesia?
Skema Channel Tunnel

Seikan Tunnel


Saatnya Uji Kemampuan Melalui OSN Pertamina


Sampai 5 tahun lalu, ajang kompetisi bergengsi Olimpiade Sains hanya diperuntukan bagi anak SMP-SMA saja, tapi kini mahasiswa pun dapat mengikuti event sejenis yang diselenggarakan oleh pihak Pertamina (kerja sama dengan Universitas Indonesia) pertama kali  pada tahun 2008. Olimpiade Sains bagi mahasiswa ini memiliki 4 bidang pilihan: Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi. Uniknya, kita bisa memilih bidang lomba sesuai keinginan, bebas, dan tidak bergantung pada asal fakultas kita! Jadi, misalnya untuk mengambil bidang lomba Kimia, reader tidak harus berasal dari Fakultas Kimia atau Farmasi. Bagaimana kalau reader dari Fakultas Ekonomi, terus mau ikut bidang lomba Biologi? Boleh dan sah-sah saja kok!
Kalau selama ini OSN Pertamina, atau disingkat OSN PTI, hanya terdiri atas kategori teori, di tahun ke-5 ini ada kategori baru, yaitu kategori Science Project. Di kategori ini selain teori berupa Scientific Paper, peserta juga harus membuat karya cipta atau model application. Ini kesempatan emas buat reader yang kurang suka teori, tapi punya segudang ide untuk Science Project!
Secara umum, OSN PTI terdiri atas 2 tahap besar, yaitu:
1. Seleksi Tingkat Provinsi
2. Seleksi Tingkat Pusat
Seleksi Tingkat Provinsi diselenggarakan di perwakilan Universitas di masing-masing provinsi. Misalnya untuk Provinsi DKI Jakarta, kita diwakili oleh Universitas Indonesia. Penulis sendiri berkesempatan mengikuti ajang ini pada tahun 2010 dan 2011 bersama beberapa teman dari Fakultas Teknobiologi, UNIKA Atma Jaya. Dari Jakarta, kami berangkat bersama-sama dengan kereta api jurusan Jakarta-Depok, lalu turun di stasiun Pondok Cina. Dari stasiun, tinggal berjalan kaki beberapa meter, lalu sampailah kami di lokasi lomba, mudah kan? 
Di seleksi awal, soal berupa pilihan ganda, dari sini dikelompokkan 9 besar dari setiap bidang pilihan di setiap provinsi. Peserta yang masuk dalam kategori 9 besar ini kemudian diseleksi lagi melalui pembuatan makalah dan pengerjaaan soal essay. 3 besar dari tiap provinsi berkesempatan menyajikan makalahnya dalam bentuk presentasi dan bisa melanjutkan ke Seleksi Tingkat Pusat.
Meski soal pilihan ganda dan essay masih bertema umum, tema makalah umumnya berkaitan dengan pengembangan sumber energi atau masalah-masalah lain yang berkaitan dengan energi. Kebetulan penulis mendapat kesempatan mengikuti ajang ini hingga tahap 9 besar provinsi. Pada tahun 2010, makalah bertemakan 'sumber energi baru bagi warga pedesaan', sementara di tahun 2011, penulis harus membuat makalah tentang 'penanganan bencana nuklir' seperti yang terjadi di PLTN Fukushima-Jepang.
Readers, berminat mengikuti kompetisi ini? Pendaftaran bisa dilakukan secara online di website resmi Pertamina http://www.osnpertamina.com/ hingga tanggal 15 September nanti. Bagi teman-teman yang ingin tahu lebih banyak, informasi lengkap juga tersedia di website tersebut. Ayo, uji kemampuan kalian di ajang bergengsi ini! Ada hadiah uang tunai juga lho! Good luck!

When Fashion Meets Science


Fibre Reactive
Dalam keseharian kita, cendawan sudah banyak kita temui sebagai bahan pangan maupun sebagai obat. Namun, cendawan yang satu ini dibuat menjadi sebuah inovasi dalam industri pakaian oleh Donna Franklin pada tahun 2004. Pakaian yang dinamakan “Fibre Reactive” ini terbuat dari fungi Pycnoporus coccineus. Fungi ini akan menghasilkan warna oranye sebagai respon adaptasi. Agar fungi dapat hidup pada pakaian tersebut dan mengeluarkan warna oranye, maka pakaian tersebut memiliki nutrisi yang merupakan hasil replikasi dari kondisi nutrisi lingkungan yang dibutuhkan P.  coccineus. Ungkapan Franklin setelah mengenakan Fiber Reactive yang bertekstur seperti kulit,”Rasanya dingin dan benar-benar solid, seperti baju besi.”. Gaun ini disimpan di RMIT Gallery.



Micro’be’
Manfaat dari red wine atau anggur merah sudah banyak kita ketahui, tetapi siapa sangka anggur merah ini dapat disulap menjadi sebuah pakaian. Baru-baru ini seorang ilmuwan, Garry Cass terinspirasi dengan adanya lapisan tipis pada tong fermentasi anggur yang di dalamnya terkontaminasi Acetobacter yang merupakan bakteri penghasil selulosa. Kemudian Cass bekerja sama dengan seorang seniman, Donna Franklin, sang pembuat Fibre Reactive, mengubah alkohol menjadi kain selulosa dengan menggunakan Acetobacter. Caranya adalah dengan menuangkan dan membungkusnya pada cetakan berbentuk tubuh manusia. Hasilnya selulosa tersebut melekat pada tubuh dan tidak dijahit sama sekali. Penelitian ini dilakukan bersama dengan para penelitian lain dari University of Western Australia.
Tak hanya dari anggur merah, tetapi mereka sukses membuat pakaian dengan fermentasi dari anggur putih dan bir seperti Guinness. Seluruh pakaian ini memiliki aroma dan warna alami dari minuman fermentasi tersebut. Kain atau pakaian yang dinamakan “Micro’be’” ini memiliki keunggulan yaitu ramah lingkungan (mudah terdegradasi) dan karena pakaian ini tidak perlu dijahit, maka dapat menekan biaya produksi. Sayangnya, masih banyak pengembangan yang harus dilakukan dalam penelitian ini karena ternyata pakaian dari anggur merah ini tidak fleksibel. Pertanyaan pun muncul,”Bagaimana saya dapat memakainya?” lalu ada apakah kita akan tahan dengan aroma wine sepanjang hari? Tetapi Cass dan Franklin optimis bahwa kain ini dapat berhasil dipasarkan.



QMilch
Ide unik lainnya muncul dari seorang fashion designer muda asal Jerman,  Anke Domaske pada tahun 2011. Domaske berhasil mengembangkan kain dari protein susu (kasein). Kain ini sehalus sutra dan tidak berbau. Keuntungan dari kain ini adalah ecological friendly karena dibuat dari bahan-bahan alami. Sebenarnya kain dari susu telah ada sejak tahun 1930-an tetapi dibuat dengan cara yang tidak ramah lingkungan (menggunakan banyak bahan kimia berbahaya).
QMilch dibuat dari kasein yang diekstrak dari bubuk susu kering dan kemudian dipanaskan dalam meat-mincing machine dengan bahan alami lainnya. Serat yang keluar berupa benang. Dibutuhkan 6 liter susu untuk menghasilkan 1 buah baju seharga 150 sampai 200 euro atau setara dengan Rp 1.990.000.
Tidask seperti susu biasanya, baju ini tidak memiliki masa kadar luarsa karena selama proses pemanasan, molukel-molekul berikatan satu sama lain sehingga protein tidak terdekomposisi. (WMG)




Garden by the Bay


Hello readers, sudahkah kalian tahu mengenai garden by the bay yang baru saja di buka beberapa bulan lalu di Singapore ? Kali ini microbes mau berbagi sedikit cerita nih mengenai perjalan salah satu anggota microbes yang sempat berkunjung kesana. Untuk info lebih lanjut bisa di liat di link ini : 

https://www.gardensbythebay.com.sg/en/the-gardens/about-the-gardens.html#!/history .
Kalian juga bisa mengeksplor lebih banyak disitus tersebut.


Dari perjalanan kemarin ini, garden by the bay ini di bagi menjadi 2, yaitu outdoor dan indoor. 
Untuk taman outdoor itu "free of charge" alias GRATIS sedangkan untuk bagian indoor karena untuk konservasi juga itu kita kalo mau masuk dua - duanya, yaitu flower dan cloud forest kalian mesti membayar S$ 28 (dalam rupiahnya sekitar 200 ribuan jika menggunakan kurs sekarang (1 SGD = IDR 7750). Tapi, itu cukup mengesankan kok apa lagi buat kalian yang emang suka observasi. Pokoknya worth deh dengan harga segitu kalian bisa menikmati pemandangan disana sambil nambah ilmu juga soalnya di "Garden by the bay" ini menggambarkan kesatuan dari teknologi dan alam (tanaman). 

Banyak ragam tanaman yang dapat kalian lihat di flower dome dan kalian bukan hanya bunga-bungaan saja yang bisa di lihat, tapi juga berbagai macam kaktus dan beragam inovasi lainnya sebagai tambahan sedangkan di cloud forest kalian akan di sambut dengan air terjun yang sangat bagus apa lagi jika kalian melihatnya di malam hari dan kalian bisa merasakan seperti benar - benar di dalam hutan dengan suasana yang dingin dan tempat ini memang hanya di batasi dengan kaca sehingga kita tetap bisa melihat keluar. Di cloud forest ini juga ada penjelasan mengenai gua (cave) yang di gambarkan dengan kristal - kristal stalaktit dan stalaknit seperti di gua yang sebenarnya. Lalu, kita juga bisa berjalan di atas seperti benar - benar di atas karena tidak ada tiang pancang di bawahnya hanya seperti jembatan biasa. 

Pokoknya perjalanan ke garden by the bay ini sangat berkesan deh, walaupun terkesan sangat ilmiah tapi itu ngga kok. BIG NO ! soalnya kalian juga bisa belajar banyak hal disana bukan cuman ilmiah aja.

Nah, yang menjadi icon dari garden by the bay ini adalah supertree grove yang memang dirancang untuk mempertahankan kesetimbangan lingkungan dengan menggunakan tenaga solar. Pada saat siang hari memang hanya seperti kumpulan pohon buatan saja, tapi kalo kalian melihatnya di malam hari lampu - lampu pada pohon itu akan nyala dan indah loh. Sekian cerita yang bisa di ulas kali ini yah. Tempat ini cukup recommended buat di datengin deh. (tha)


Ini beberapa foto yang bisa di share dari perjalanan ini :
(Outdoor park, siang hari) 
Flower dome
 Cloud Forest (water fall & sky walk track)
 Flower Dome (the flower)
 Cloud Forest (Crystal Cave)
Outdoor park (night view)


Pro-Kontra Padi Transgenik: Golden Rice

Artikel berikut ini dibuat oleh Audrey Gandasasmita (Fakultas Teknobiologi angkatan 2009). Awalnya artikel ini dibuat untuk memenuhi tugas tantangan dalam mata kuliah Bioteknologi Tanaman yang diampu oleh Kak Listya Utami Karmawan, M.Si, namun karena isinya yang menarik dan bermanfaat, artikel ini akhirnya diterbitkan di blog MICROBES. Selamat membaca!

Ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang pesat pada abad ke-21 ini. Inovasi-inovasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat terus dihasilkan, baik itu dalam bidang kesehatan, teknologi, industri, maupun pertanian. Namun tidak semua inovasi tersebut mendapatkan sambutan yang hangat. Tidak sedikit dari inovasi tersebut yang menuai pro kontra dari berbagai pihak baik itu dari segi moral, etika, linkungan, agama, dll. Kontroversi seperti ini salah satunya terjadi pada hasil pengembangan produk pertanian yang dikenal dengan nama "Golden Rice".

Golden rice merupakan padi transgenik yang di dalamnya terkandung gen penyandi provitamin A yang dipercaya mampu menjadi solusi untuk defisiensi penyakit A pada anak-anak di negara berkembang. Namun penemuan besar karya Prof. Dr. Ingo Potrycus tidak langsung disambut secara baik oleh pihak-pihak tertentu seperti Greenpeace. Pro kontra terhadap golden rice terus saja berlangsung hingga waktu yang belum dapat ditentukan. Sama halnya dengan produk-produk transgenik lainnya yang dianggap belum sepenuhnya aman untuk dikonsumsi masyarakat luas. Hal ini berkaitan dengan efek jangka panjangnya yang masih belum diketahui baik untuk konsumen, lingkungan, maupun secara etika, dan moral. Dalam artikel juga disebutkan bahwa kandungan provitamin A di dalam golden rice dirasakan belum signifikan untuk memenuhi kebutuhkan vitamin A sehari-hari sehingga dibutuhkan dosis yang cukup besar dan proses implementasinya dan efektivitasnya masih banyak dipertanyakan.

Namun menurut saya pribadi, semua keraguan ini sulit untuk dibuktikan bila hanya memperdebatkan pro kontra dari berbagai aspek. Bagaimanapun juga, kepastian akan dampak-dampak tersebut hanya dapat diketahui dan dianalisis bila golden rice telah diaplikasikan secara langsung. Namun sebelum proses pengaplikasian, tentu tetap dibutuhkan serangkaian uji terdahulu untuk meminimalkan dampak negatif yang tidak diharapkan.

Bila dianalogikan, permasalahan GMO ini serupa dengan orang yang ingin belajar berenang. Orang yang ingin belajar berenang, mau tidak mau harus mencoba langsung untuk masuk dan belajar di dalam kolam renang. Sisi positifnya, ia perlahan-lahan mampu belajar dan mengaplikasikan apa yang ia dapat sehingga akhirnya ia dapat menjadi perenang yang sesungguhnya. Namun di sisi lain, dengan langsung masuk ke kolam renang, ia juga berisiko tenggelam akibat belum dapat berenang secara baik. Namun bila ia tidak mencoba maka pada akhirnya, orang tersebut tidak akan bisa berenang.Serupa dengan pro kontra pada golden rice dan produk GMO lainnya. Tanpa aplikasi langsung maka keraguan-keraguan ini hanya bagaikan omongan belaka dan satu-satunya cara untuk membuktikannya hanyalah melalui proses pengaplikasian langsung ke dalam kehidupan manusia. Semoga dengan berjalannya waktu, produk-produk GMO mulai dapat diterima karena bagaimanapun juga inovasi ini juga dilakukan demi tercapainya kesejahteraan masyarakat di dunia.


Namun menurut saya pribadi, semua keraguan ini sulit untuk dibuktikan bila hanya memperdebatkan pro kontra dari berbagai aspek. Bagaimanapun juga, kepastian akan dampak-dampak tersebut hanya dapat diketahui dan dianalisis bila golden rice telah diaplikasikan secara langsung. Namun sebelum proses pengaplikasian, tentu tetap dibutuhkan serangkaian uji terdahulu untuk meminimalkan dampak negatif yang tidak diharapkan.

Bila dianalogikan, permasalahan GMO ini serupa dengan orang yang ingin belajar berenang. Orang yang ingin belajar berenang, mau tidak mau harus mencoba langsung untuk masuk dan belajar di dalam kolam renang. Sisi positifnya, ia perlahan-lahan mampu belajar dan mengaplikasikan apa yang ia dapat sehingga akhirnya ia dapat menjadi perenang yang sesungguhnya. Namun di sisi lain, dengan langsung masuk ke kolam renang, ia juga berisiko tenggelam akibat belum dapat berenang secara baik. Namun bila ia tidak mencoba maka pada akhirnya, orang tersebut tidak akan bisa berenang.Serupa dengan pro kontra pada golden rice dan produk GMO lainnya. Tanpa aplikasi langsung maka keraguan-keraguan ini hanya bagaikan omongan belaka dan satu-satunya cara untuk membuktikannya hanyalah melalui proses pengaplikasian langsung ke dalam kehidupan manusia. Semoga dengan berjalannya waktu, produk-produk GMO mulai dapat diterima karena bagaimanapun juga inovasi ini juga dilakukan demi tercapainya kesejahteraan masyarakat di dunia.